Kalau kamu pernah nanya, “Imlek itu apa, sih?” jawabannya ternyata jauh lebih luas daripada sekadar lampion merah, kue keranjang, atau angpao. Imlek (Tahun Baru Imlek) adalah perayaan pergantian tahun berdasarkan kalender tradisional Tionghoa, yang fokus utamanya ada di reuni keluarga, harapan baru, dan doa untuk keberuntungan di tahun yang akan datang. (Intangible Cultural Heritage)

Di artikel ini, kita bahas versi yang gampang dicerna: makna Imlek, tradisi yang umum dilakukan, sampai konteksnya di Indonesia.

Imlek itu apa?

Ilustrasi keluarga Tionghoa menikmati makan malam bersama saat perayaan Imlek dengan hidangan khas dan suasana hangat.

Ilustrasi suasana makan malam keluarga saat Imlek, menggambarkan kebersamaan, kehangatan, dan tradisi turun-temurun.

Imlek merujuk pada Tahun Baru dalam kalender tradisional Tionghoa (sering juga disebut Lunar New Year atau Spring Festival/Festival Musim Semi). Perayaannya jatuh pada hari pertama bulan pertama dalam kalender tersebut. (Intangible Cultural Heritage)

Kenapa tanggal Imlek selalu berubah tiap tahun?

Karena kalender yang dipakai bersifat lunisolar (mengikuti peredaran bulan sekaligus diselaraskan dengan siklus matahari). Itu sebabnya tanggal Imlek di kalender Masehi bisa maju-mundur setiap tahun. Penjelasan soal sistem kalender Imlek sebagai Im Yang Lek (Yin Yang Li) juga dijelaskan dalam kanal Bimas Khonghucu Kemenag. (https://khonghucu.kemenag.go.id)

Secara tradisi, rangkaian perayaan bisa berlangsung hingga sekitar 15 hari di beberapa budaya dan biasanya ditutup dengan festival lampion. (AP News)

Makna Imlek: lebih dari “yang penting ramai”

Di banyak keluarga Tionghoa, hari itu merupakan momen “pulang ke rumah” versi paling emosional.

UNESCO menjelaskan bahwa perayaan tahun baru tradisional ini melibatkan praktik sosial untuk menyambut tahun baru, mendoakan keberuntungan, merayakan reuni keluarga, dan memperkuat harmoni komunitas. (Intangible Cultural Heritage)

Jadi, kalau diringkas, makna Imlek biasanya berputar di tiga hal ini:

  • Reuni keluarga: makan bareng, ketemu orang tua, kumpul lintas generasi.
  • Bersih-bersih dan “reset” hidup: beres-beres rumah, buang yang lama, siapin energi baru.
  • Doa dan harapan baik: untuk kesehatan, rezeki, keselamatan, dan hubungan yang rukun.

Tradisi Imlek yang paling sering kamu lihat (dan maknanya)

Sekelompok teman menikmati suasana perayaan Imlek di restoran dengan lampion merah sambil tersenyum dan berfoto bersama.

Tiga orang menikmati momen kebersamaan saat perayaan Imlek di restoran dengan dekorasi lampion khas Tahun Baru Tionghoa.

Berikut beberapa tradisi yang umum, plus konteks kenapa orang melakukannya.

1) Bersih-bersih rumah sebelum hari H

Menjelang hari H, banyak keluarga melakukan cleaning besar. UNESCO juga menyebut kebiasaan membersihkan rumah sebelum perayaan sebagai bagian dari persiapan menyambut tahun baru. (Intangible Cultural Heritage)
Intinya: “buang sial”, buka ruang buat hal baik.

2) Makan malam reuni keluarga

Ini salah satu highlight yang paling terasa hangat. Banyak keluarga menaruh “reuni” sebagai pusat perayaan: duduk bareng, makan enak, dan ngobrol tanpa buru-buru. (Encyclopedia Britannica)

3) Dekor serba merah dan nuansa terang

Merah sering dipakai di baju, hiasan, sampai amplop angpao. Dalam banyak penjelasan populer, merah dikaitkan dengan keberuntungan dan perlindungan simbolik. National Geographic menyinggung penggunaan warna merah dalam dekorasi dan pakaian saat Lunar New Year. (National Geographic)
Britannica juga mencatat legenda “Nian” yang ikut mempopulerkan unsur merah, cahaya, dan suara keras dalam tradisi perayaan. (Encyclopedia Britannica)

4) Angpao (hongbao): bukan cuma uang, tapi simbol

Angpao biasanya diberikan oleh yang lebih tua kepada yang lebih muda (atau yang sudah menikah kepada yang belum menikah, tergantung tradisi keluarga). Ini cara halus untuk berbagi berkah dan doa baik. (National Geographic)

5) Barongsai dan keramaian komunitas

Di beberapa daerah, perayaan hari ini identik dengan barongsai, pertunjukan budaya, sampai bazar. Ini sisi komunalnya: bukan cuma urusan keluarga inti, tapi juga “kampung” dan komunitas.

Imlek di Indonesia: kenapa makin terasa dekat?

Hari ini punya sejarah sosial yang panjang dan dinamis. Salah satu tonggak pentingnya adalah ketika pemerintah menetapkan Hari Tahun Baru Imlek sebagai Hari Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002. Di dokumen itu ada kalimat yang cukup tegas: “Menetapkan Hari Tahun Baru Imlek sebagai Hari Nasional.” (BPHN)

Keputusan tersebut ditetapkan pada 9 April 2002. (BPHN)
Dalam pemberitaan dan rangkuman sejarah populer, penetapan ini sering disebut sebagai bagian dari era ketika perayaannya yang kembali diakui secara lebih terbuka di ruang publik. (detiknews)

Dari situ, maka wajar kalau sekarang Imlek terasa makin “Indonesia banget”: ada yang merayakan penuh di rumah, ada yang sekadar berkunjung dan ikut silaturahmi, ada juga yang menikmati festival budaya di kota-kota tertentu.

Kalau kamu ikut berkunjung saat Imlek, ini etika simpel biar aman

Kadang kita ikut Imlek bukan sebagai yang merayakan inti, tapi sebagai teman, tetangga, atau keluarga pasangan. Biar nggak salah langkah:

  • Jangan kepo nominal angpao. Ini wilayah sensitif.
  • Bawa buah atau camilan kecil kalau kamu bertamu, simpel tapi sopan.
  • Ikuti aturan rumah tuan rumah. Misalnya ada waktu doa keluarga, lebih baik tunggu dan hormati.
  • Ucapan aman: “Selamat Tahun Baru Imlek” atau “Gong Xi Fa Cai” (umumnya dipakai sebagai doa kemakmuran).

Kesimpulan

Jadi, Imlek itu apa? Imlek adalah perayaan tahun baru berdasarkan kalender tradisional Tionghoa yang menekankan reuni keluarga, persiapan menyambut harapan baru, dan tradisi yang sarat simbol.
Di Indonesia, hari ini juga punya konteks sejarah penting, termasuk penetapannya sebagai Hari Nasional lewat Keppres No. 19 Tahun 2002. (BPHN). Secara global, pengakuan UNESCO menempatkan Imlek sebagai warisan budaya takbenda yang hidup dan terus dirayakan. Jadi, ketika Imlek tiba, mari rayakan dengan sukacita, saling mendoakan, dan berbagi kebaikan.